Jejak 140 Tahun Dakwah, Masjid Shirathal Mustaqiem Tetap Tegak di Samarinda Seberang

oleh -
Penulis: Nur Ainunnisa
Editor: Ardiansyah
Tampak depan Masjid Shirathal Mustaqiem di Jalan Pangeran Bendahara, Kelurahan Mesjid, Kecamatan Samarinda Seberang. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa
Tampak depan Masjid Shirathal Mustaqiem di Jalan Pangeran Bendahara, Kelurahan Mesjid, Kecamatan Samarinda Seberang. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa
banner 300×250

BorneoFlash.com, SAMARINDA — Di tengah perkembangan kota yang terus bergerak, sebuah bangunan kayu bersejarah di tepian Sungai Mahakam masih berdiri dengan wibawa yang terjaga. 

 

Masjid Shirathal Mustaqiem menjadi salah satu penanda penting perjalanan syiar Islam yang telah berlangsung lebih dari satu abad di Samarinda Seberang.

 

Sejak didirikan pada akhir abad ke-19, masjid yang berlokasi di Jalan Pangeran Bendahara tersebut berfungsi bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan sosial dan keagamaan masyarakat. 

 

Bangunannya yang menggunakan kayu ulin pada lantai, dinding, pilar hingga atap sirap yang didatangkan dari Karang Mumus dan Kutai Lama menjadi ciri khas arsitektur yang bernilai historis. 

 

Dengan luas sekitar 625 meter persegi dan teras sepanjang 16 meter, masjid ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

 

Pemugaran pernah dilakukan pada 2001 saat masa kepemimpinan Wali Kota Achmad Amins. Namun, keaslian struktur utama tetap dipertahankan sebagai bagian dari upaya pelestarian. Sebuah tugu di halaman masjid menjadi penanda proses rehabilitasi tersebut.

 

Keberadaan masjid ini bermula pada 1881 dan disebut sebagai titik penting perubahan sosial di kawasan Samarinda Seberang. Pendirinya adalah ulama sekaligus saudagar asal Pontianak, Said Abdurachman bin Assegaf yang bergelar Pangeran Bendahara.

 

Pengurus masjid, Ishak Ismail, menerangkan bahwa pendirian masjid dilatarbelakangi kondisi sosial masyarakat saat itu yang masih diwarnai praktik sabung ayam dan perjudian.

 

“Pembangunan masjid ini dimaksudkan sebagai sarana pembinaan akhlak dan perbaikan tatanan sosial masyarakat pada masa itu,” ujarnya, pada Jumat (20/2/2026).

 

Seiring berkembangnya aktivitas dakwah dari masjid tersebut, perubahan sosial pun berlangsung secara bertahap. Nama Pangeran Bendahara kemudian diabadikan menjadi nama jalan sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya.

Baca Juga :  PPU Minta Kompensasi Adil Usai Aset Senilai Triliunan Beralih ke Wilayah IKN

 

Selain Pangeran Bendahara, pembangunan masjid juga melibatkan Kapitan Jaya, Pettaloncong, dan Lusulunna. Keempat tokoh tersebut dikenang melalui empat soko guru atau tiang utama masjid yang hingga kini tetap berdiri kokoh.

Simak berita dan artikel BorneoFlash lainnya di  Google News

Jangan ketinggalan berita terbaru! Follow Instagram  dan subscribe channel YouTube BorneoFlash Sekarang

No More Posts Available.

No more pages to load.