“Apabila subuh di Samarinda sekitar pukul 05.00 Wita, maka kegiatan membangunkan sahur sebaiknya dimulai sekitar pukul 03.45 Wita, bukan sejak pukul 02.30 yang berpotensi menimbulkan gangguan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa Ramadan juga mengajarkan pentingnya saling menghormati. Tidak seluruh masyarakat menjalankan puasa karena alasan yang dibenarkan, seperti kondisi kesehatan atau sedang dalam perjalanan.
“Tidak semua orang diwajibkan berpuasa. Ada yang sakit, sedang bepergian, atau memiliki kondisi tertentu. Oleh sebab itu, sikap saling menghargai harus tetap dijunjung,” tegas Nasrun.
Ia juga mengajak masyarakat untuk mengisi Ramadan dengan kegiatan yang bernilai positif dan menghindari aktivitas yang berpotensi mengganggu ketertiban umum, seperti balapan liar atau kegiatan lain yang meresahkan.
“Semarak Ramadan hendaknya tercermin dari meningkatnya ibadah dan kepedulian sosial, bukan dari aktivitas yang justru mencederai ketertiban,” ujarnya.
Nasrun menambahkan, terciptanya suasana Ramadan yang aman dan nyaman tidak hanya bergantung pada aturan, melainkan juga kesadaran kolektif masyarakat.
Dengan sikap saling memahami dan menghormati, ia optimistis pelaksanaan Ramadan di Samarinda dapat berlangsung khidmat serta penuh keberkahan.
“Hal utama adalah membangun kesadaran bersama untuk saling menghormati, sehingga Ramadan dapat dijalani dengan tertib dan penuh keberkahan,” pungkasnya.







