Literasi sebagai Nafas Pendidikan, Kunci yang Membuka Pintu Gudang Ilmu Pengetahuan

oleh -
Editor: Ardiansyah
Ilustrasi by Freepick.
Ilustrasi by Freepick.

BorneoFash.com, OPINI – Pendidikan sering kali dianalogikan sebagai sebuah bangunan megah yang menopang peradaban. Jika kurikulum adalah cetak birunya dan guru adalah arsiteknya, maka literasi adalah oksigen yang menghidupkan seluruh struktur tersebut. Tanpa literasi, pendidikan hanyalah sebuah kerangka kosong yang statis. 

 

Literasi bukan sekadar kemampuan teknis untuk mengeja huruf atau merangkai kalimat; ia adalah sebuah proses kognitif mendalam yang memungkinkan manusia untuk menyerap, mengolah, dan memproduksi pengetahuan. 

 

Inilah mengapa literasi disebut sebagai “nafas” pendidikan—sesuatu yang esensial, terus-menerus, dan menjadi penentu hidup-matinya kualitas intelektual sebuah bangsa.

 

Pada hakikatnya, literasi adalah kunci pertama yang membuka pintu gudang ilmu pengetahuan. Dalam dunia pendidikan formal, hampir seluruh transfer informasi dilakukan melalui medium teks, baik cetak maupun digital. 

 

Seorang siswa tidak mungkin memahami kompleksitas hukum fisika, alur sejarah dunia, atau logika matematika tanpa kemampuan literasi yang mumpuni. Namun, literasi melampaui batas-batas ruang kelas. 

 

Ia adalah kemampuan untuk melakukan dekodasi terhadap dunia. Ketika seseorang membaca, ia sebenarnya sedang melakukan dialog dengan pemikiran-pemikiran hebat dari masa lalu dan masa kini. Pendidikan yang mengabaikan literasi akan menghasilkan individu yang mampu menghafal, tetapi gagal memahami. 

 

Literasi memberikan nutrisi pada daya nalar, memungkinkan murid untuk tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga mempertanyakannya secara kritis.

 

Literasi sebagai Alat Berpikir Kritis

Di era disrupsi informasi seperti sekarang, peran literasi sebagai nafas pendidikan menjadi semakin krusial. Kita tidak lagi kekurangan informasi; kita justru tenggelam dalam banjir informasi yang sering kali bercampur dengan disinformasi (hoaks). Pendidikan yang bernafaskan literasi sejati akan membekali peserta didik dengan “filter” mental.

Baca Juga :  Sekolah Garuda Transformasi dan Sekolah Rakyat, “Dua Sayap Pendidikan Indonesia”

 

Literasi informasi dan literasi digital memungkinkan seseorang untuk membedakan mana fakta yang berbasis data dan mana opini yang provokatif. Inilah yang disebut dengan kemampuan berpikir kritis (critical thinking). 

 

Tanpa nafas literasi yang sehat, pendidikan hanya akan mencetak “robot-robot” pintar yang mudah dimanipulasi oleh narasi palsu. Dengan literasi, pendidikan berubah menjadi proses pembebasan, di mana setiap individu memiliki kedaulatan atas pikirannya sendiri.

Simak berita dan artikel BorneoFlash lainnya di  Google News

Jangan ketinggalan berita terbaru! Follow Instagram  dan subscribe channel YouTube BorneoFlash Sekarang

No More Posts Available.

No more pages to load.