Sering kali kita lupa bahwa literasi juga memiliki dimensi emosional. Melalui literasi sastra, misalnya, pendidikan menyentuh sisi kemanusiaan yang paling dalam. Saat membaca narasi tentang kehidupan orang lain dari budaya atau latar belakang yang berbeda, seorang pelajar sedang belajar tentang empati.
Pendidikan karakter tidak bisa hanya diajarkan melalui doktrin moral yang kaku, melainkan harus dihirup melalui pengalaman literasi yang kaya.
Membaca memungkinkan kita “hidup” dalam ribuan nyawa yang berbeda, memahami penderitaan mereka, dan merayakan kemenangan mereka. Hal inilah yang membentuk karakter manusia yang inklusif dan bijaksana—sebuah tujuan luhur dari pendidikan nasional kita.
Sayangnya, di banyak belahan dunia, termasuk Indonesia, nafas literasi ini terkadang terasa sesak.
Rendahnya minat baca dan terbatasnya akses terhadap bacaan berkualitas menjadi hambatan besar. Pendidikan sering kali terjebak pada formalitas ujian, sehingga membaca dianggap sebagai beban alih-alih kebutuhan.
Untuk mengembalikan literasi sebagai nafas pendidikan, perlu ada transformasi menyeluruh. Literasi harus diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran, bukan hanya tugas guru bahasa.
Perpustakaan harus menjadi jantung sekolah yang hidup, dan budaya diskusi harus dipupuk sejak dini. Lingkungan pendidikan harus diciptakan sedemikian rupa sehingga membaca dan menulis menjadi aktivitas yang menyenangkan, seperti halnya bernafas yang dilakukan tanpa paksaan namun memberikan kehidupan.
Sebagai simpulan, literasi bukan sekadar bagian dari pendidikan; literasi adalah esensi dari pendidikan itu sendiri. Jika kita ingin melihat kualitas pendidikan bangsa ini meningkat, kita harus memastikan bahwa setiap peserta didik memiliki nafas literasi yang kuat. Literasi adalah energi yang menggerakkan roda kemajuan, memicu inovasi, dan menjaga nyala api peradaban.
Dengan menjadikan literasi sebagai nafas dalam setiap detak aktivitas pendidikan, kita sedang mempersiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh, kritis, dan beradab dalam menghadapi tantangan masa depan. Pendidik dan peserta didik harus menyadari bahwa berhenti berliterasi berarti berhenti bernafas dalam dunia intelektual. (*)
Nama Penulis: Agus Priyono Marzuki S.Pd
Profesi: Guru
No WhatsApp: 085792185490
Email: agus16priyono.marzuki@gmail.com







