Kepak Dua Sayap Menyatukan Sekolah Garuda Transformasi dan Sekolah Rakyat dalam satu ekosistem pendidikan Indonesia membutuhkan jembatan filosofis yang kokoh. Dasar teorinya adalah Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.
- Ing Ngarsa Sung Tulada: Sekolah Garuda Transformasi harus menjadi teladan dalam inovasi dan keterbukaan informasi, namun tetap memberikan keteladanan karakter yang tidak tercerabut dari nilai Indonesia.
- Ing Madya Mangun Karsa: Di tengah keterbatasan, Sekolah Rakyat harus mampu membangkitkan kemauan dan semangat (karsa) masyarakat untuk terus belajar melalui dialog. Freire menyebut dialog sebagai sarana utama pendidikan—komunikasi yang setara antara guru dan murid untuk memecahkan masalah kehidupan.
- Tut Wuri Handayani: Negara dan sistem pendidikan harus memberikan dorongan dari belakang bagi keduanya, memastikan bahwa kemajuan teknologi di satu sisi dan kekuatan akar rumput di sisi lain menuju pada satu tujuan: kemandirian bangsa.
Kesimpulan
Sekolah Garuda Transformasi dan Sekolah Rakyat adalah dua manifestasi dari satu janji kemerdekaan: mencerdaskan kehidupan bangsa. Menggunakan kacamata Freire, kita harus memastikan pendidikan tidak menjadi alat penjinakan sosial, melainkan alat pembebasan.
Dan melalui kacamata Ki Hadjar Dewantara, kita diingatkan bahwa pendidikan adalah tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai manusia dan anggota masyarakat.
Jika kedua sayap ini bergerak secara selaras—satu dengan kecanggihan transformatifnya dan satu dengan kekuatan rakyatnya—maka pendidikan Indonesia akan mampu membawa bangsa ini terbang melampaui tantangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. (*)
Nama Penulis: Agus Priyono Marzuki S.Pd
Profesi: Guru
No WhatsApp: 085792185490
Email: agus16priyono.marzuki@gmail.com






