Sebagai langkah awal, kelurahan akan menggelar pelatihan budidaya bawang tiwai dengan melibatkan langsung pelaku usaha sebagai narasumber. Pelatihan mencakup proses pembibitan, penanaman di media tanam, hingga panen.
“Kami akan mengundang ketua RT dan warga yang memiliki potensi lahan. Setelah itu, kelurahan akan terus menggerakkan masyarakat agar pembibitan dan penanaman bisa berjalan berkelanjutan,” jelasnya.
Pelatihan dan peluncuran program tematik bawang tiwai ini direncanakan bersamaan dengan peresmian Koperasi Merah Putih di Graha Indah. Koperasi tersebut nantinya menjadi sarana promosi, pemasaran, serta penyebarluasan informasi produk bawang tiwai dan UMKM lainnya.
Selain bawang tiwai, Graha Indah juga memiliki UMKM lain yang telah berjalan, seperti produksi bunga telang di RT 45 yang telah mengantongi izin PIRT dari Dinas Kesehatan. Produk-produk UMKM tersebut kerap difasilitasi oleh Dinas Koperasi, UMKM, dan Perindustrian Kota Balikpapan, untuk mengikuti berbagai kegiatan promosi dan pameran.
“Kami ingin Graha Indah punya satu ikon, dan bawang tiwai kami pilih sebagai unggulan. Namun, ini tidak berarti mengesampingkan potensi lain seperti wisata mangrove, UMKM pengolahan sampah, dan produk lokal lainnya,” tegas Arif.
Ia berharap program ini mampu membuka peluang usaha baru, meningkatkan pendapatan warga, serta memperkuat ekonomi masyarakat, sejalan dengan arahan Presiden RI terkait penguatan ketahanan pangan dan peran strategis UMKM.

Sementara itu, Camat Balikpapan Utara, Umar Adi, memberikan apresiasi atas langkah Kelurahan Graha Indah yang meluncurkan program tematik bawang tiwai sebagai bentuk inovasi pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.
“Program ini dirancang sesuai karakter wilayah dan kebutuhan masyarakat. Ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat peran Tim Penggerak PKK dalam pemberdayaan masyarakat,” ujar Umar.
Ia menilai pengangkatan bawang tiwai sebagai ikon unggulan menunjukkan keseriusan kelurahan dalam mendorong pembangunan ekonomi yang lebih terarah dan berkelanjutan, tanpa mengesampingkan pengembangan produk lokal lainnya.





