Fokus utama pelatihan diarahkan pada peningkatan standarisasi kualitas, mengingat proses pascapanen memegang peranan krusial dalam menjaga konsistensi rasa dan aroma kopi. Kesalahan kecil pada tahapan ini dapat menurunkan kualitas bahkan merusak potensi genetik biji kopi terbaik.
Edi Kuncoro menekankan pentingnya kedisiplinan dalam setiap tahapan pengolahan.
“Kualitas kopi ditentukan dari hal-hal kecil yang sering dianggap sepele, mulai dari waktu panen, kebersihan saat sortasi, hingga kontrol fermentasi. Jika pascapanen dilakukan secara benar dan konsisten, petani berpeluang menghasilkan kopi dengan karakter rasa stabil yang layak masuk kategori specialty grade, dengan nilai jual jauh lebih tinggi,” jelasnya.
Salah satu peserta, Bagio, petani kopi asal Desa Tengin Baru, mengaku memperoleh banyak pembelajaran praktis dari pelatihan tersebut.
“Selama ini kami mengolah kopi berdasarkan kebiasaan turun-temurun. Dari pelatihan ini, saya jadi paham tahapan pascapanen yang benar dan cara menjaga kualitas agar rasanya konsisten. Ini membuka peluang menjual kopi dengan harga yang lebih baik,” tuturnya.

Melalui kolaborasi ini, Otorita IKN berharap terbangun ekosistem pertanian kopi yang lebih profesional dan berkelanjutan di wilayah penyangga IKN.
Peningkatan kapasitas petani diyakini mampu memperkuat kualitas produk lokal, memperluas akses pasar, serta memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat, sejalan dengan komitmen pembangunan IKN yang inklusif dan berbasis pemberdayaan ekonomi lokal. (*/Humas Otorita IKN)







