Menurutnya, kuliner bukan sekadar soal rasa, tetapi menjadi bahasa budaya yang menggambarkan hubungan masyarakat dengan sejarah, alam, dan lingkungan sosialnya. Setiap hidangan tradisional menyimpan cerita leluhur serta identitas etnis yang harus dijaga dan diwariskan lintas generasi.
“Melestarikan kuliner daerah berarti merawat cinta pada budaya sendiri. Melalui kegiatan seperti ini, generasi muda diajak untuk mengenal, mencintai, dan bangga terhadap kuliner khas Kalimantan Timur agar mampu bersaing di tingkat nasional hingga internasional,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara organisasi profesi, pemerintah daerah, pelaku UMKM, dan masyarakat dalam menjadikan kuliner lokal sebagai kekuatan ekonomi kreatif sekaligus daya tarik pariwisata.
Rangkaian Indonesia Chef Day 2026 diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari diskusi kuliner, pameran produk makanan lokal, hingga promosi inovasi masakan berbasis bahan pangan Nusantara.

Para chef menampilkan kreasi yang memadukan resep tradisional dengan sentuhan modern tanpa menghilangkan jati diri dan karakter rasa asli.
Melalui peringatan 19 tahun ICA ini, para insan kuliner diajak untuk terus merajut keberagaman etnis melalui cita rasa, sekaligus memperkuat identitas kuliner Kaltim sebagai bagian penting dari warisan kuliner Nusantara. Dari dapur dan meja makan, nilai budaya dan kecintaan pada bangsa terus hidup dan berkembang. (*)





