Sementara itu, Kapolda Sulsel Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro menyampaikan bahwa Rumah Sakit Bhayangkara Biddokkes Polda Sulsel telah ditetapkan sebagai pusat identifikasi korban kecelakaan pesawat tersebut. Tim Disaster Victim Identification (DVI) dari Mabes Polri juga telah diterjunkan untuk mempercepat proses identifikasi.
“Sampai saat ini keluarga korban sudah hadir untuk pemeriksaan data ante mortem. Salah satunya adalah adik kandung kopilot pesawat,” ungkap Kapolda.
Untuk memaksimalkan pelayanan, Polda Sulsel juga melakukan pola jemput bola dengan berkoordinasi bersama Biddokkes di daerah lain, baik dalam pemeriksaan ante mortem maupun post mortem.
Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) tersebut membawa 10 orang penumpang, terdiri dari tujuh kru pesawat dan tiga penumpang. Tiga penumpang diketahui merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yakni Ferry Irawan, Deden Mulyana, dan Yoga Naufal.
Sementara tujuh kru pesawat terdiri dari Kapten Andi Dahananto, kopilot Muhammad Farhan Gunawan, serta kru Hariadi, Restu Adi, Dwi Murdiono, Florencia Lolita, dan Esther Aprilita.
Sebelumnya, pesawat dinyatakan hilang kontak di kawasan pegunungan Bulusaraung, wilayah perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan, saat hendak mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin pada Sabtu (17/1/2026) siang.
Memasuki hari kedua operasi SAR, tim gabungan telah menemukan sejumlah serpihan pesawat serta satu jenazah korban yang hingga kini belum teridentifikasi identitasnya. (*/ANTARA)





