Keluarga Korban ATR 42 Datangi Posko DVI, Sampel DNA Diambil untuk Ungkap Identitas Jenazah

oleh -
Editor: Ardiansyah
Kepala Biddokkes Polda Sulsel Kombes Pol Muhammad Haris (tengah), Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Didik Supranoto (kiri) beserta tim DVI menjawab pertanyaan wartawan di Biddokkes Polda Sulsel. Foto: BorneoFlash/ANTARA/Darwin Fatir.
Kepala Biddokkes Polda Sulsel Kombes Pol Muhammad Haris (tengah), Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Didik Supranoto (kiri) beserta tim DVI menjawab pertanyaan wartawan di Biddokkes Polda Sulsel. Foto: BorneoFlash/ANTARA/Darwin Fatir.

BorneoFlash.com, MAKASSAR — Keluarga Muhammad Farhan Gunawan, salah satu korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, mendatangi Posko Ante Mortem Biddokkes Polda Sulsel di Jalan Kumala, Makassar, pada Minggu (18/1/2026), untuk memberikan keterangan sekaligus pengambilan sampel DNA.

 

Kepala Biddokkes Polda Sulsel Kombes Pol Muhammad Haris mengatakan, hingga saat ini baru satu orang keluarga korban yang secara aktif datang ke Posko DVI.

 

“Hari ini ada satu orang keluarga korban yang mendatangi Posko DVI Biddokkes untuk memberikan keterangan hubungan keluarga sekaligus dilakukan pengambilan sampel DNA,” ujar Haris kepada wartawan.

 

Keluarga korban yang diambil sampel DNA tersebut adalah Haerul Gunawan, adik kandung dari Muhammad Farhan Gunawan yang menjabat sebagai kopilot pesawat nahas tersebut. Sampel DNA ini akan digunakan sebagai pembanding apabila jenazah korban ditemukan oleh tim SAR.

 

“Apabila ditemukan jasad atau bagian tubuh korban, maka akan segera dicocokkan dengan sampel DNA yang telah kami ambil,” jelasnya.

 

Selain keluarga Muhammad Farhan di Sulsel, Haris menyebutkan bahwa keluarga korban lainnya juga telah mendatangi Biddokkes di daerah berbeda. Salah satunya adalah keluarga Esther Aprilita, pramugari pesawat ATR 42-500, yang menjalani proses pengambilan data dan sampel DNA di Biddokkes Provinsi Jawa Barat.

 

“Kami terus berkoordinasi dan secara aktif menghubungi keluarga para korban untuk proses ante mortem. Dari total 10 korban, masih ada delapan keluarga lainnya yang sedang kami upayakan,” tambah Haris.

Simak berita dan artikel BorneoFlash lainnya di  Google News

No More Posts Available.

No more pages to load.