“Penanganannya bukan dengan penutupan total. Konsepnya berupa kanopi yang dapat dibuka dan ditutup sesuai kebutuhan,” terang Yama.
Disdag juga telah melakukan pendataan terhadap seluruh titik rawan tempias, mulai dari lantai atas hingga bagian bawah bangunan. Penanganan akan dilakukan secara menyeluruh agar persoalan serupa tidak kembali terjadi, terutama saat cuaca ekstrem.
“Semua titik sudah kami petakan, termasuk area yang selama ini kerap terkena tempias. Penanganannya akan dilakukan satu per satu,” katanya.
Menariknya, perbaikan ini tidak akan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Seluruh biaya pengadaan material hingga pemasangan akan dibiayai melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari kontraktor yang mengerjakan proyek revitalisasi Pasar Pagi.
Yama menyebut dukungan tersebut diberikan karena pihak kontraktor memandang persoalan tempias sebagai bentuk tanggung jawab moral, meskipun berada di luar perencanaan awal proyek.
“Pendanaannya berasal dari kontraktor melalui CSR. Mereka menilai ini sebagai bagian dari tanggung jawab moral yang perlu diselesaikan,” ungkapnya.
Ia menegaskan, Pemkot Samarinda ingin memastikan perbaikan dilakukan secara tepat dan menyeluruh agar aktivitas perdagangan di Pasar Pagi tidak lagi terganggu ketika hujan turun.
“Kami ingin masalah ini ditangani dengan baik sehingga kegiatan pedagang tidak terganggu saat hujan,” pungkas Yama.





