Ia mengungkapkan, wilayah Balikpapan Barat menjadi salah satu fokus perhatian karena banyak dihuni warga pendatang dengan kondisi ekonomi yang rentan.
Faktor tekanan ekonomi, pengangguran, hingga lingkungan sosial dinilai berkontribusi besar terhadap risiko stunting.
“Banyak ibu hamil yang hidup dalam kondisi tertekan karena faktor ekonomi dan sosial. Ini sangat memengaruhi kesehatan kandungan dan anak,” ujarnya.
Nurlena menambahkan, pelibatan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam kepengurusan saat ini menjadi pembeda dibanding periode sebelumnya. Kolaborasi lintas sektor diharapkan membuat program lebih cepat, tepat, dan langsung menyentuh masyarakat.
“Sekarang semua OPD terkait kita libatkan, supaya program berjalan seiring dan lebih efektif,” tegasnya.
Selain stunting, TP PKK Balikpapan juga menaruh perhatian pada tantangan sosial lain, terutama dampak perkembangan kota sebagai gerbang Ibu Kota Nusantara (IKN), seperti potensi penyalahgunaan narkoba di kalangan generasi muda.
“Kita ingin anak-anak muda lebih banyak berkegiatan positif, bukan sekadar nongkrong yang bisa berujung pada hal-hal yang tidak diinginkan,” pungkas Nurlena.
Adanya kolaborasi kader, Posyandu, Dinas Kesehatan Kota, serta DP3KB, TP PKK Balikpapan optimistis target penurunan stunting dan peningkatan kualitas hidup keluarga dapat tercapai sesuai harapan pemerintah daerah dan provinsi.







