Peran kedua, lanjut Aji Sabri, adalah mendukung pembangunan Ibu Kota Nusantara melalui kolaborasi lintas etnis dan lembaga adat.
Menurutnya, kehadiran IKN harus disikapi secara positif sebagai peluang bersama yang membutuhkan partisipasi seluruh elemen masyarakat, termasuk masyarakat adat.
“Salah satu target besar kami adalah mendukung IKN. Dukungan ini bukan sekadar simbolik, tetapi diwujudkan melalui kerja sama nyata dengan etnis-etnis lain yang ada di Balikpapan dan sekitarnya,” tegasnya.
Terkait sebaran masyarakat adat Paser, Aji Sabri menjelaskan bahwa secara demografis masyarakat Paser mayoritas bermukim di Kabupaten Paser dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Sementara di Kota Balikpapan, masyarakat Paser berada dalam posisi minoritas.
“Meski di Balikpapan kami minoritas, hal itu tidak mengurangi peran dan kontribusi masyarakat Paser dalam pembangunan serta kehidupan sosial kota ini,” ungkapnya.

Ia memperkirakan, di Kabupaten Paser, masyarakat Paser masih berkisar antara 40 hingga 50 persen dari total penduduk. Namun demikian, Aji Sabri menegaskan bahwa Lembaga Adat Paser akan terus berupaya menjaga identitas budaya, sekaligus adaptif terhadap dinamika zaman.
“Adat harus menjadi perekat, bukan pemisah. Dengan semangat kebijaksanaan dan kecintaan terhadap budaya, kami ingin Lembaga Adat Paser turut menjadi bagian dari masa depan yang harmonis, berkeadilan, dan berkelanjutan,” pungkasnya. (*)








