Langkah kesiapsiagaan ini sejalan dengan peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menempatkan Kalimantan Timur dalam kategori risiko hidrometeorologi sedang hingga tinggi hingga akhir Maret 2026. Pada Januari, curah hujan di wilayah ini tercatat berada pada kisaran 20 hingga 50 milimeter per hari.
Berdasarkan hasil pemantauan, wilayah yang berpotensi terdampak lebih besar berada di Kabupaten Berau dan Kutai Timur. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh dinamika cuaca regional, termasuk pergerakan angin dari kawasan Pasifik.
Buyung mencontohkan banjir yang sempat terjadi di Kecamatan Wahau sebagai sinyal kewaspadaan.
“Kejadian banjir tersebut murni disebabkan oleh luapan sungai dan saat ini terus kami pantau perkembangannya,” jelasnya.
Hingga saat ini, BPBD Kaltim belum menerima laporan kejadian tanah longsor. Buyung menjelaskan bahwa karakter geologis dan topografi Kalimantan Timur relatif berbeda dibandingkan wilayah pegunungan yang memiliki tingkat kerawanan longsor lebih tinggi.
Meski belum ditetapkan status siaga darurat, BPBD Kaltim telah mengaktifkan koordinasi lintas sektor dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BPBD kabupaten/kota, serta Dinas Sosial.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan kesiapan personel dan ketersediaan logistik, termasuk kebutuhan pangan bagi pengungsian apabila diperlukan.
Menurut Buyung, kesiapsiagaan bencana tidak hanya bertumpu pada ketersediaan peralatan, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia.
“Personel gabungan yang melibatkan BPBD, Tagana, Dinas Sosial, hingga tenaga kesehatan telah disiagakan. Apabila terjadi peningkatan eskalasi bencana, seluruh unsur dapat segera dikerahkan,” pungkasnya.






