Tempias Hujan di Pasar Pagi Viral, PUPR Samarinda Sebut Pengaruh Angin Kencang

oleh -
Penulis: Nur Ainunnisa
Editor: Ardiansyah
Kepala Dinas PUPR Kota Samarinda, Desy Damayanti. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa
Kepala Dinas PUPR Kota Samarinda, Desy Damayanti. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa

BorneoFlash.com, SAMARINDA — Hujan deras yang disertai hembusan angin kencang pada Sabtu (3/1/2025) mengakibatkan air hujan masuk hingga ke lantai enam Pasar Pagi Samarinda

 

Peristiwa tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan pedagang karena berpotensi merusak barang dagangan, sekaligus memicu perhatian publik terhadap ketahanan bangunan pasar menghadapi cuaca ekstrem.

 

Kejadian itu semakin menjadi sorotan setelah rekaman video kondisi Pasar Pagi Samarinda beredar luas di media sosial. 

 

Dalam video tersebut terlihat air hujan masuk dari sisi bangunan dan membasahi area lantai atas pasar yang selama ini difungsikan sebagai ruang aktivitas perdagangan.

 

Menanggapi peristiwa tersebut, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Samarinda mengakui bahwa kondisi hujan yang disertai tekanan angin dari arah samping belum sepenuhnya terakomodasi dalam perencanaan awal bangunan.

 

Kepala Dinas PUPR Kota Samarinda, Desy Damayanti, menjelaskan bahwa fenomena tersebut dipengaruhi oleh hembusan angin kencang yang mendorong air hujan masuk ke dalam bangunan, kondisi yang tidak selalu terjadi setiap kali hujan.

 

“Dalam perencanaan bangunan, masuknya air hujan akibat tekanan angin dari arah samping memang belum diperhitungkan secara khusus, karena kondisi tersebut tidak terjadi pada setiap peristiwa hujan,” ujar Desy, pada Selasa (6/1/2026).

 

Ia menguraikan bahwa tempias hujan berasal dari sisi kanan bangunan yang menghadap ke Jalan Pandai. 

 

Area tersebut masih relatif terbuka sehingga aliran angin menjadi lebih kuat dan mendorong air masuk ke bagian dalam bangunan. Hal ini berbeda dengan sisi kiri bangunan yang telah terlindungi oleh bangunan lain di sekitarnya.

 

Saat ini, PUPR Samarinda tengah melakukan kajian teknis untuk menentukan langkah penanganan yang paling tepat guna mencegah kejadian serupa terulang. 

Simak berita dan artikel BorneoFlash lainnya di  Google News

No More Posts Available.

No more pages to load.