Perkembangan Pemikiran dan Tradisi Keilmuan Islam

oleh -
Editor: Ardiansyah
Ilustrasi by Freepik.
Ilustrasi by Freepik.

BorneoFlash.com, OPINI – Perkembangan pemikiran dan tradisi keilmuan Islam merupakan salah satu babak paling gemilang dalam sejarah umat manusia, sebagaimana ditelaah secara mendalam dalam buku Kaki Langit Peradaban Islam karya Nurcholish Madjid. 

 

Buku ini, yang diterbitkan oleh Yayasan Paramadina pada 1997, tidak hanya merekam kejayaan masa lalu tetapi juga menyajikan tesis revitalisasi untuk membangun “kaki-kaki langit” peradaban baru, dengan bahan baku dari doktrin Islam, rasionalitas modern, dan janji ilahi dalam Al-Qur’an. 

 

Madjid, seorang intelektual Muslim Indonesia terkemuka, menganalisis bagaimana Islam—sebagai agama peradaban—melahirkan ledakan intelektual yang memengaruhi dunia Barat hingga Renaissance, sambil mengkritik kemunduran kontemporer akibat penutupan ijtihad dan ketertinggalan IPTEK.

 

Opini ini menelaah evolusi tersebut berdasarkan kerangka buku, mulai dari fondasi awal hingga visi masa depan, dengan menekankan peran masjid sebagai pusat peradaban dan semangat iqra’ sebagai pendorong utama.

 

Fondasi Pemikiran di Era Klasik Awal

Tradisi keilmuan Islam bermula pada masa Nabi Muhammad SAW di Madinah, di mana Masjid Nabawi menjadi prototipe universitas pertama. Madjid menguraikan fungsi masjid ini sebagai pusat ibadah, pengajaran Al-Qur’an, musyawarah politik, dan pengembangan administrasi negara. 

 

Sahabat Nabi seperti Abu Bakar ra. mengajarkan tafsir dan qira’at, Umar bin Khattab ra. merintis sistem diwan (keuangan negara) berbasis zakat, serta Ali bin Abi Thalib ra. meletakkan dasar logika dan usul fiqh. Pola ini menyebar pasca-Fathu Makkah, menciptakan jaringan madrasah sederhana di berbagai wilayah.

 

Pada masa Bani Umayyah (661-750 M), pemikiran berkembang melalui kontak dengan peradaban Bizantium dan Persia, di mana terjemah karya filsuf Yunani seperti Aristoteles, Plato, dan Galen ke bahasa Arab menjadi kunci. 

Baca Juga :  Sekolah Terlalu Sibuk Mengejar Nilai, Lupa untuk Mendidik Hidup

 

Madjid menekankan sikap kosmopolitan umat Islam saat itu, yang melihat ilmu sebagai tanda kebesaran Allah (QS Fussilat: 53), sehingga wahyu dan akal bersinergi. Era ini mempersiapkan ledakan Abbasiyah, dengan Baitul Hikmah Baghdad sebagai pusat terjemah dan riset global.

Simak berita dan artikel BorneoFlash lainnya di  Google News

Jangan ketinggalan berita terbaru! Follow Instagram  dan subscribe channel YouTube BorneoFlash Sekarang

No More Posts Available.

No more pages to load.