Tidak hanya mengandalkan personel internal, upaya mitigasi juga diperkuat melalui keterlibatan relawan serta Forum Pengurangan Risiko Bencana yang tergabung dalam kolaborasi pentahelix.
“Seluruh unsur yang terlibat, termasuk relawan dan forum pengurangan risiko bencana dalam skema pentahelix, telah kami siapkan untuk menghadapi potensi kejadian bencana,” jelasnya.
Suwarso menambahkan, rangkaian persiapan tersebut meliputi pelaksanaan apel kesiapsiagaan, pengecekan dan penyiapan peralatan kebencanaan, hingga pendirian posko siaga bencana di sejumlah titik.
“Langkah-langkah yang kami lakukan mencakup apel kesiapsiagaan, memastikan kelengkapan peralatan, serta mendirikan posko siaga bencana sebagai bagian dari upaya antisipasi,” katanya.
Selain kesiapsiagaan di tingkat kota, BPBD Samarinda juga memperkuat kemampuan penanganan awal di tingkat kelurahan.
Sejumlah kelurahan tanggap bencana telah dibekali peralatan pendukung guna melakukan respons dini apabila terjadi banjir atau longsor sebelum bantuan lanjutan diterjunkan.
“Beberapa kelurahan tanggap bencana juga kami lengkapi dengan peralatan penanganan awal agar dapat melakukan respons cepat di wilayah masing-masing,” pungkas Suwarso.
BPBD Samarinda mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, khususnya warga yang bermukim di kawasan rawan banjir dan longsor, serta segera melapor kepada pihak terkait apabila menemukan tanda-tanda potensi bencana.





