Imam menambahkan, pengembangan area Dondang dihadapkan pada sejumlah kondisi lapangan yang menantang. Lapangan Mutiara dan Pamaguan dikenal memiliki karakteristik vegetasi yang sangat rapat serta sebagian lokasi berada di area badan air sehingga memerlukan pendekatan operasional yang lebih terukur, aman, dan adaptif terhadap kondisi lingkungan.
”Tantangan ini mendorong PHSS untuk menerapkan strategi operasi terintegrasi yang mengedepankan keselamatan, kepatuhan, serta lindungan lingkungan,” jelasnya.
Tantangan lain area Dondang berupa struktur reservoir tercacah-cacah karena adanya fenomena tektonik yang mengakibatkan banyaknya patahan-patahan kecil. Satu reservoir dengan yang lainnya tidak saling terkoneksi.
Selain itu, letak reservoir yang berada di bawah area badan air juga memerlukan desain dari sumur bor yang khusus agar dapat mencapai reservoir yang ditargetkan. ”Kondisi ini memerlukan perencanaan yang komprehensif agar pengambilan sumber daya tersebut lebih maksimal,” ungkap Imam.
Manager Subsurface Development Area 1 Zona 9, Magfirah Rajab, menyampaikan bahwa Zona 9 terus melakukan evaluasi untuk optimalisasi perolehan migas di Area 1, termasuk area Dondang. “Evaluasi yang komprehensif terus dilakukan untuk mengoptimalkan perolehan Minyak dan Gas di Area 1 PHSS.
Hal ini dilakukan untuk menjaga keberlanjutan produksi dengan semua dinamika yang diharapkan dapat menjadi peluang untuk berinovasi sehingga target perusahaan dapat tercapai,” ujarnya.

PHSS akan terus menjalankan strategi pengembangan area Dondang secara bertahap dan terukur, sejalan dengan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG).
Melalui kolaborasi dengan SKK Migas, pemerintah daerah, serta pemangku kepentingan lainnya, PHSS berkomitmen menjaga operasi secara aman, andal, untuk mendukung ketahanan energi nasional serta memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitar wilayah kerja. (*)








