Ia juga menyebutkan bahwa ruang pertemuan ini sekaligus menjadi pendukung bagi agenda Pemerintah Kota, khususnya untuk menerima tamu dan menyelenggarakan acara berskala sedang.
“Ruang ini memang disediakan untuk kegiatan pertemuan pemerintah, termasuk ketika ada tamu dari kementerian atau instansi lain. Kapasitasnya juga memungkinkan untuk menampung lebih dari 50 orang dan dilengkapi area terbuka,” jelasnya.
Secara visual, konsep bangunan mengadopsi gaya anjungan Balai Kota, namun dipadukan dengan lanskap taman yang mengelilinginya untuk memperkuat fungsi ruang publik.
“Desainnya menyerupai anjungan, namun dilengkapi taman di bagian luar. Bangunannya dirancang lebih tinggi dengan bentuk yang cukup menonjol,” ungkapnya.
Selain menjadi fasilitas pertemuan, kawasan ini dipersiapkan sebagai wajah baru kota.
Area tersebut nantinya diharapkan dapat dimanfaatkan warga untuk rekreasi, berkumpul, atau beraktivitas di ruang publik yang tertata dan mudah diakses.
Desy menegaskan bahwa proyek penataan sebenarnya telah dimulai tahun sebelumnya.
Pada 2024, tahap pertama senilai Rp9,6 miliar dikerjakan untuk membenahi struktur dasar, termasuk penyiapan lahan dan fondasi.

“Tahun lalu lebih banyak pada pekerjaan fondasi dan persiapan struktur, karena tanahnya sebelumnya hanya digunakan sebagai area pepohonan. Dengan adanya pembangunan, diperlukan penyesuaian pada struktur dasarnya,” paparnya.
Walau tidak mengingat seluruh rincian teknis pada tahap awal, ia memastikan bahwa dokumen lengkap tersedia dalam sistem ULP.
Hingga saat ini, pelaksanaan proyek tidak menemui gangguan yang berarti.
Pekerjaan meliputi penataan lanskap, pembentukan kontur taman, pengerjaan tanah serta pondasi, hingga pemasangan perangkat pendukung infrastruktur.





