Sekolah yang Baik Tidak Mencetak Murid tapi Menghidupkan Pikiran

oleh -
Editor: Ardiansyah
Ilustrasi di Sekolah, Guru bukan hanya menjadi pemberi materi, melainkan fasilitator yang mampu menggerakkan dan memandu pikiran siswa agar mereka bisa menemukan sendiri makna dan jawaban permasalahan. Foto: IST/School Media
Ilustrasi di Sekolah, Guru bukan hanya menjadi pemberi materi, melainkan fasilitator yang mampu menggerakkan dan memandu pikiran siswa agar mereka bisa menemukan sendiri makna dan jawaban permasalahan. Foto: IST/School Media

Peran Guru dalam Menghidupkan Pikiran

Bertrand sangat menekankan peran guru sebagai fasilitator yang menggerakkan pikiran siswa. Guru bukan lagi sosok otoriter yang hanya menyampaikan materi, tetapi lebih seperti mentor yang menuntun siswa menemukan pengetahuan sendiri. Melalui metode tanya jawab yang kritis, penguatan wawasan di luar buku teks, serta pemberian ruang bebas berpikir, guru dapat menghidupkan pikiran siswa.

 

Guru yang menghidupkan pikiran juga harus peka terhadap kebutuhan dan kondisi individual siswa. Ia harus memahami bahwa setiap murid memiliki gaya belajar, kemampuan, dan minat yang berbeda. Pendidikan yang personal dan humanistik inilah yang dirujuk Bertrand sebagai pembelajaran bermakna.

 

Dampak Positif Pendidikan yang Menghidupkan Pikiran

Sekolah yang berhasil mengimplementasikan konsep ini akan menghasilkan lulusan yang tidak sekadar pandai dalam menghafal, tapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, mandiri, dan inovatif. Lulusan seperti ini akan mampu berkontribusi secara maksimal dalam kehidupan bermasyarakat, menghadapi tantangan zaman, dan melahirkan solusi kreatif untuk masalah-masalah kompleks.

 

Selain itu, penghidupan pikiran juga berkontribusi pada pembentukan karakter hidup yang berintegritas dan bertanggung jawab. Ini karena proses berpikir kritis juga mengasah kesadaran etis dan sosial siswa. Dengan pola pikir yang berkembang, siswa mampu berpikir jauh melampaui kepentingan pribadi menjadi peduli pada kemajuan sosial dan kemanusiaan.

 

Kritik terhadap Pendidikan yang “Mencetak Murid”

Model pendidikan yang hanya fokus mencetak murid—misalnya mengejar nilai ujian, standar prestasi, dan output kuantitatif—berisiko menciptakan sistem pembelajaran yang kering, tidak memanusiakan dan membatasi potensi siswa secara menyeluruh. Pendidikan jenis ini cenderung menghasilkan lulusan yang pasif, kurang inovatif, dan mungkin bahkan kehilangan rasa ingin tahu.

 

Sikap “mencetak murid” juga bisa memperkuat budaya persaingan yang tidak sehat dan tekanan psikologis. Di sini, pengembangan dimensi berpikir kritis dan reflektif justru diabaikan karena waktunya habis untuk mengejar target nilai dan pencapaian standar akademik.

Baca Juga :  Sejarah Punk: Sebuah Ideologi yang Disalahpahami Masyarakat

 

Kesimpulan

Pendekatan pendidikan seperti yang ditawarkan Charles Bertrand—yang memandang sekolah bukan sebagai mesin pencetak murid tetapi sebagai ruang penghidupan pikiran—memberi paradigma baru bagi sistem pembelajaran masa kini. 

 

Sekolah ideal adalah institusi yang dapat menginspirasi siswa untuk berpikir secara mandiri dan kritis, mengembangkan rasa ingin tahu, dan belajar secara bermakna. 

 

Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga manusia yang berdaya cipta tinggi, bertanggung jawab, dan siap menghadapi tantangan dunia yang dinamis.

 

Mewujudkan sekolah yang mampu menghidupkan pikiran butuh komitmen dari semua pemangku kepentingan pendidikan, terutama guru sebagai ujung tombak transformasi pembelajaran. Dengan pendekatan ini, sekolah benar-benar menjadi tempat belajar yang hidup dan membangun peradaban. (*)

Nama Penulis: Agus Priyono Marzuki S.Pd
Profesi: Guru
No WhatsApp: 085792185490
Email: agus16priyono.marzuki@gmail.com

Simak berita dan artikel BorneoFlash lainnya di  Google News

Jangan ketinggalan berita terbaru! Follow Instagram  dan subscribe channel YouTube BorneoFlash Sekarang

No More Posts Available.

No more pages to load.