“Kalau kondisi seperti ini terus dibiarkan, tanah akan mudah terkikis air hujan dan pohon di atasnya bisa tumbang. Itu tentu berbahaya bagi pengguna jalan,” terangnya.
Selain faktor keselamatan, TWAP juga menilai kondisi tersebut berdampak terhadap kebersihan dan kenyamanan lingkungan.
Tanah terbuka yang tidak segera ditangani dapat menimbulkan debu di musim kemarau dan lumpur saat musim hujan.
“Ketika panas, debu beterbangan, sementara saat hujan berubah menjadi lumpur yang menutupi sebagian badan jalan. Situasi ini jelas mengganggu kebersihan kota,” tambahnya.
Sukisman menilai kondisi median yang terbengkalai turut merusak tampilan kota.
Ia menegaskan pekerjaan semestinya dilakukan secara berkesinambungan agar tidak menimbulkan kesan semrawut di jalan utama yang menjadi wajah Samarinda.
“Median yang dibiarkan terbuka membuat pemandangan kota tampak tidak rapi. Idealnya, setelah dibongkar, material baru langsung dipasang tanpa menunggu terlalu lama,” tegasnya.
Dalam rapat koordinasi bersama Dinas PUPR Samarinda, TWAP menekankan pentingnya menyesuaikan pembukaan area kerja dengan ketersediaan bahan dan tenaga pelaksana.





