Kurs Rupiah Diproyeksi Melemah Seiring Aksi Profit Taking

oleh -
Penulis: Berthan Alif Nugraha
Editor: Ardiansyah
Seorang petugas di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta menghitung pecahan dolar AS dan rupiah. Dok. Foto: ANTARA/Rivan Awal Lingga/tom.
Seorang petugas di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta menghitung pecahan dolar AS dan rupiah. Dok. Foto: ANTARA/Rivan Awal Lingga/tom.
banner 300×250

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menambahkan bahwa pasar tengah mengantisipasi kemungkinan The Fed memangkas suku bunga lebih agresif. Langkah itu diperkirakan menjadi respons terhadap dampak negatif shutdown, termasuk penurunan daya beli konsumen.

 

Shutdown juga menunda publikasi data ekonomi penting seperti klaim pengangguran mingguan, laporan non-farm payrolls, dan tingkat pengangguran. Dengan begitu, perhatian pelaku pasar bergeser ke data ketenagakerjaan swasta, salah satunya laporan Challenger Job Cuts.

 

Berdasarkan laporan Challenger, Gray & Christmas, PHK perusahaan di AS pada September 2025 turun 25,8 persen secara tahunan (yoy).

 

Meski demikian, total PHK sepanjang tahun masih tertinggi sejak 2020, sementara rencana perekrutan anjlok hingga 71 persen yoy.

 

Data tersebut menunjukkan pasar tenaga kerja AS stagnan, dengan perusahaan cenderung berhati-hati dalam ekspansi tenaga kerja.

 

“Untuk hari ini, kami memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp16.550–Rp16.675 per dolar AS,” ujar Josua.

 

Pada pembukaan perdagangan Jumat di Jakarta, rupiah melemah 27 poin atau 0,16 persen menjadi Rp16.625 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya Rp16.608 per dolar AS. (*/ANTARA)

Simak berita dan artikel BorneoFlash lainnya di  Google News

Jangan ketinggalan berita terbaru! Follow Instagram  dan subscribe channel YouTube BorneoFlash Sekarang

No More Posts Available.

No more pages to load.