“Pemerintah juga melakukan pengawasan ketat di sejumlah akses masuk antarpulau, seperti pelabuhan feri, guna memastikan kualitas dan keaslian beras yang beredar. Kami prioritaskan pasokan dari hasil pertanian lokal,”ungkapnya.
Wagub Seno juga menyampaikan bahwa menjelang akhir Juli ini, beberapa kabupaten di Kaltim akan memasuki masa panen raya.
Diharapkan hasil panen tersebut dapat mendukung kebutuhan konsumsi masyarakat.
“Diperkirakan pada akhir bulan ini akan terjadi panen raya di sejumlah wilayah dengan target produksi antara 50 ribu hingga 60 ribu ton,”jelasnya.
Kendati demikian, ia mengakui bahwa jumlah tersebut masih belum mencukupi kebutuhan pangan secara menyeluruh di Kaltim, yang mencapai sekitar 450 ribu ton per tahun.
Saat ini, produksi lokal baru mampu memenuhi sekitar 260 ribu hingga 300 ribu ton per tahun.
Terkait dengan kenaikan harga beras yang terjadi di pasaran, Wagub Seno menjelaskan bahwa hal tersebut dipengaruhi oleh penyesuaian harga gabah di tingkat nasional.
“Kenaikan harga ini terkait dengan kebijakan Presiden yang menetapkan harga minimum gabah petani sebesar Rp6.500 per kilogram. Meskipun demikian, harga beras masih berada di bawah harga eceran tertinggi dan masih bisa diterima oleh pasar,”pungkasnya. (*)





