Nurlena menambahkan bahwa banyak remaja putri saat ini memiliki kadar hemoglobin (HB) yang rendah, di bawah angka ideal 12.
“Sebagian besar masih berada di angka 10. Ini perlu kita tingkatkan, karena dari usia remaja inilah kita mulai menyiapkan mereka agar kelak mampu melahirkan generasi yang sehat dan bebas dari stunting,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa stunting bukan sekadar persoalan pertumbuhan fisik yang terhambat, melainkan menyangkut masa depan anak-anak, termasuk risiko perkembangan kognitif, kesehatan jangka panjang, hingga potensi ekonomi.
“Menurunkan stunting adalah bentuk investasi jangka panjang untuk kualitas sumber daya manusia Kota Balikpapan. Apalagi pada tahun 2045 kita ingin mewujudkan generasi emas Indonesia,” ujarnya penuh semangat.

Program Gempur Stunting atau Gerakan Bersama Posyandu Berantas Stunting merupakan gerakan berbasis komunitas yang melibatkan berbagai pihak, seperti posyandu, tenaga kesehatan, masyarakat, dan pemerintah. Fokus utamanya antara lain Gerakan 100% Balita Ditimbang, serta inisiatif RT sebagai Orang Tua Asuh Balita.
“Kita juga dorong kelas ‘Ibu Pintar’ untuk memberikan edukasi dan pelatihan bagi orang tua, agar lebih memahami pentingnya gizi dan pemantauan kesehatan anak. Karena kalau bukan dari kita, siapa lagi yang akan mencerdaskan anak bangsa?” pungkas Hj. Nurlena Mas’ud. (*)








