Kesepakatan ini didasari semangat keikhlasan, ketulusan, serta tanggung jawab terhadap PWI dan bangsa. “Semua harus melihat ke depan dengan semangat persatuan. Ini demi kemajuan organisasi dan kelanjutan program peningkatan kompetensi anggota PWI,” ujar Hendry.
Zulmansyah turut mengapresiasi hasil pertemuan tersebut sebagai momentum bersejarah. “Ini hasil luar biasa. Semoga PWI kembali guyub dan bersatu, sesuai dengan namanya: Persatuan Wartawan Indonesia,” katanya.
Dokumen yang ditandatangani di atas materai itu juga menetapkan pembentukan panitia bersama:
- Organizing Committee (OC), terdiri dari 6 orang dari kubu Hendry dan 6 orang dari kubu Zulmansyah, dengan struktur lengkap: ketua, wakil ketua, sekretaris, wakil sekretaris, serta koordinator bidang persidangan, pendanaan, akomodasi, dan transportasi.
- Steering Committee (SC), juga dibentuk secara proporsional, dengan tugas mengawal agar pelaksanaan kongres sesuai prinsip rekonsiliasi dan demokrasi.
Salah satu poin krusial dalam kesepakatan tersebut adalah keterbukaan pencalonan Ketua Umum. Setiap anggota biasa PWI diberikan hak penuh untuk mencalonkan diri tanpa hambatan administratif akibat konflik sebelumnya. Jika terdapat kendala, kedua pihak sepakat menyelesaikannya secara damai dan kekeluargaan.
Sebelum pertemuan tatap muka, Hendry dan Zulmansyah telah menjalin komunikasi intensif melalui sambungan telepon. Beberapa isu krusial disepakati secara informal terlebih dahulu. Selama proses negosiasi, Dahlan Dahi juga melibatkan sejumlah tokoh senior PWI untuk memberi masukan.
Pertemuan ditutup dengan suasana hangat, jabatan tangan, dan tawa dari kedua belah pihak—menandai awal baru bagi PWI menuju rekonsiliasi dan kebersamaan. (*)





