BorneoFlash.com — Asap hitam membubung dari cerobong Kapel Sistina pada Rabu, menandakan bahwa para kardinal belum berhasil memilih paus baru pada hari pertama konklaf.
Hingga kini belum muncul sosok unggulan yang jelas untuk menggantikan posisi pemimpin Gereja Katolik Roma, sehingga para kardinal akan melanjutkan proses pemungutan suara secara tertutup pada Kamis hingga terpilih pengganti Paus Fransiskus.
Sebanyak 133 kardinal pemilih telah kembali ke kediaman Santa Marta di dalam wilayah Vatikan, di mana mereka akan tetap dikarantina selama proses konklaf berlangsung.
Sementara itu, 1,4 miliar umat Katolik di seluruh dunia masih menantikan dengan penuh harap, tanpa kejelasan siapa yang akan menjadi pemimpin spiritual mereka selanjutnya.
Seluruh kardinal telah mengucapkan sumpah untuk menjaga kerahasiaan dan menyerahkan semua perangkat elektronik mereka guna mencegah komunikasi eksternal, kebocoran informasi, maupun pengawasan dari luar. Perangkat seperti ponsel baru akan dikembalikan setelah konklaf selesai.
Pelanggaran terhadap sumpah tersebut dapat berakibat pada ekskomunikasi otomatis dari Gereja Katolik.
Sementara itu, di luar Kapel Sistina, puluhan ribu orang memadati Lapangan Santo Petrus saat matahari terbenam untuk menyaksikan asap hasil pembakaran surat suara meskipun, dalam tradisi, sangat jarang paus baru terpilih hanya setelah satu kali pemungutan suara.
“Kami berharap hal itu terjadi, tapi kami sadar kemungkinan besar tidak malam ini,” ujar Carla Peat, 19 tahun, yang datang dari Skotlandia bersama teman-temannya untuk mengikuti momen konklaf. Mereka sempat bercanda bahwa pendeta lokal lebih memilih makan malam daripada mengamati cerobong, namun berjanji akan kembali ke alun-alun pada hari Kamis.
Dua paus terdahulu, Benediktus XVI dan Fransiskus, terpilih pada hari kedua proses pemungutan suara, sementara Yohanes Paulus II terpilih pada hari ketiga.
Mekanisme sinyal asap dalam konklaf
Setelah setiap sesi pemungutan suara, surat suara dibakar menggunakan bahan kimia khusus di tungku yang terletak di bagian belakang Kapel Sistina. Pembakaran ini menghasilkan asap berwarna yang memberikan sinyal kepada publik di luar mengenai hasil pemungutan suara.
Selama tiga hari kedepan, proses konklaf akan mencakup hingga empat sesi pemungutan suara per hari kedua sesi di pagi hari dan dua sesi di sore hari. Jika hingga hari kelima, yang jatuh pada hari Minggu, belum juga terpilih paus baru, para kardinal akan diberi waktu jeda dari proses pemungutan untuk berdoa, merenung secara pribadi, dan berdiskusi secara informal.
Konklaf kali ini dipandang sebagai ajang tarik menarik antara dua kelompok kardinal: satu pihak mendukung kelanjutan reformasi dan visi mendiang Paus Fransiskus, sementara pihak lainnya menginginkan perubahan arah menuju gaya kepemimpinan yang lebih tradisional.
Kedua kubu tersebut tampil dengan semboyan berbeda — sebagian mengusung “persatuan” dan mendambakan kepausan yang lebih stabil dan dapat diprediksi, sementara yang lain menekankan “keberagaman” serta mendukung calon yang akan meneruskan jejak reformis Fransiskus.
Proses pemilihan ini juga berlangsung di tengah bayang-bayang krisis pelecehan seksual oleh rohaniwan, yang masih mengguncang Gereja Katolik dan dianggap oleh banyak pihak sebagai masalah serius yang membutuhkan reformasi menyeluruh.
Meski tidak ada daftar resmi kandidat paus, sejumlah nama mencuat sebagai calon kuat, di antaranya Kardinal Luis Antonio “Chito” Tagle dari Filipina, Kardinal Robert Prevost dari Amerika Serikat, dan Kardinal Pietro Parolin dari Italia, yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Negara Vatikan.
Sebagian besar ketidakpastian saat ini muncul akibat restrukturisasi Dewan Kardinal yang dilakukan oleh Paus Fransiskus. Ia menunjuk anggota yang lebih mencerminkan keragaman Gereja global, sekaligus menghapus tradisi tak tertulis yang secara otomatis memberikan gelar kardinal kepada uskup dari keuskupan-keuskupan tertentu.
Namun, akibat dari perubahan tersebut, banyak kardinal yang tidak saling mengenal satu sama lain. Bahkan, dalam pertemuan menjelang konklaf, beberapa dari mereka harus mengenakan tanda pengenal nama agar dapat saling mengenali. (*)





