Tinjau TA Revamp di Kilang Pertamina Unit Balikpapan, Nicke Widyawati Bangga Pada Inovasi Green Refinery Perwira Muda

oleh -
Editor: Ardiansyah
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati saat Meninjau TA Revamp di Kilang Pertamina Unit Balikpapan. Foto: HO/PT KPI Unit Balikpapan
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati saat Meninjau TA Revamp di Kilang Pertamina Unit Balikpapan. Foto: HO/PT KPI Unit Balikpapan

BorneoFlash.com, BALIKPAPAN – PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit Balikpapan terus mengembangkan inovasi demi mencapai tujuan perusahaan untuk menjadi Green Refinery.

 

Salah satu inovasi hadir dari kelompok atau gugus Continuous Improvement Program (CIP) yang merupakan suatu program bagi insan Pertamina dan pekerja untuk melakukan inovasi berpartisipasi mengelola permasalahan di lokasi pekerjaan demi meningkatkan efisiensi kinerja.

 

PC-PROVE BTS (Better Than Solvent) adalah satu gugus yang terdiri dari enam orang pekerja yang mayoritas merupakan pekerja di Bagian Laboratorium Fungsi Engineering & Development. Kelompok ini beranggotakan Jaka Oktasanova, Ananda Pam Kusdita, Bondan Kekey, Rizky Nurcahyanto, Halbi Maulana, Nur Mukhlis dan Lingga Dewa. Berawal dari keresahan operator analis di laboratorium PT KPI Unit Balikpapan akan analisa Sedimen dan Air pada crude oil (minyak mentah) yang sering terhambat.

 

“Keterlambatan itu dikarenakan stok solvent pelarut analisa yang berupa toluene sering habis akibat proses pengadaan yang sulit dan dengan biaya yang tidak sedikit,” ungkap Ketua PC-PROVE BTS Jaka Oktasanova, Jum’at (05/04/2024).

 

Berawal dari permasalahan analisa Sediment & water (S&W) merupakan pengujian dengan penggunaan Toluene terbanyak dibanding analisa lain di LAB RU V Balikpapan, ditinjau dari permintaan Analisa baik internal maupun eksternal. Dengan meningkatnya permintaan Analisa S&W, namun tidak dibarengi dengan stok solvent toluene yg selalu tersedia untuk Analisa karna pengadaan yg lama, ditambah harga yang mahal menyebabkan biaya operasional membengkak.

 

“Karena hal tersebut kami khususnya para pekerja Laboratorium selalu berupaya mencari solusi dengan menggantikan Solvent pelarut toluene dengan pelarut yang kami buat sendiri formulasinya. Penelitian dan riset yang telah dilakukan sejak Januari 2023 didapatkan kesimpulan bahwa produk inovasi yang kami beri nama Labsol-05 ini bisa menggantikan toluene dengan harga yang lebih murah dan stok bahan baku yang selalu tersedia karena berasal dari kilang PT KPI Unit Balikpapan tidak seperti toluene yang harus impor,” sambung Jaka.

Baca Juga :  Diagnosa Kematian Petugas KPPS Batu Ampar Akibat Hipertensi dan Kegagalan Fungsi Jantung 

 

Inovasi yang menghasilkan produk Labsol -05 ini tidak hanya menarik perhatian manajemen PT KPI Unit Balikpapan. Melalui kegiatan Bincang Millenials dan Gen Z yang dilakukan setelah pelaksanaan kegiatan Manajemen Walkthrough (MWT) dan Safari Ramadhan, jajaran Board Of Director PT Pertamina Group memberikan dukungan dan apresiasinya.

 

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati saat menjawab pertanyaan pada acara tersebut mengungkapkan rasa bangganya, “Saya bangga sekali deh dengan Perwira muda kita dari Laboratory RU V, mengembangkan produk yang lebih ramah lingkungan. Jadi kualitasnya even lebih baik dibanding yang kita impor selama ini. Jadi terima kasih selamat ya, tentu kita support. Seperti halnya program-program sinergi lainnya, produk ini harus digunakan di yang lain,” kata Nicke.

 

Menurut Nicke Inovasi produk Labsol-05 ini merupakan inovasi yang baik, menghadirkan solusi salah satunya dari segi finansial yang dinilai cukup efisien. Nicke juga akan terus mendukung inovasi ini melalui sinergi antar unit kilang Pertamina lainnya jika dinilai lebih baik secara kualitas daripada harus melakukan impor.

 

“Ini kan untuk mengurangi sediment water dari crude ya. Itu yang jadi masalah tuh disana bilang katanya bagus water contentnya turun, sampai sini ternyata tinggi. Nah, dengan itu sebetulnya bisa jadi solusi,” tambah Nicke.

 

Dengan adanya inovasi LABSOL-05 ini biaya operasional Laboratory untuk pembelian Toluene pada Analisa S&W menurun hingga 42,86%. Selain itu, ketersediaan stok pelarut S&W juga menjadi lebih terjamin. Paparan B3 (Benzene) kepada pekerja dari pelarut Toluene berkurang dengan dipakainya produk LABSOL-05 yang lebih rendah kandungan Benzene. Limbah B3 dari pelarut Toluene berkurang menjadi limbah hidrokarbon yang lebih mudah pengolahannya.

Baca Juga :  Sambut HUT RI ke 78, Megawati Bersama ESI Balikpapan Gelar Kompetisi Mobile Legend dan Free Fire 

 

LABSOL-05 ini lebih ramah lingkungan dibanding toluene karena rendah kandungan sulfur (<1 ppm) vs Toluene (>30 ppm). LABSOL-05 aman digunakan bagi pekerja karena rendah benzene (<0.09 %) vs toluene (>2 %).

 

Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR PT KPI Unit Balikpapan Dody Yapsenang menambahkan bahwa PT KPI Unit Balikpapan juga akan terus mendukung pengembangan berbagai inovasi lainnya.

 

“Sebagai salah satu upaya untuk menciptakan Green Refinery, PT KPI Unit Balikpapan terus mendukung berbagai inovasi dan strategic initiative yang dilakukan oleh para pekerjanya. Ini merupakan karya anak bangsa yang harus terus kita gali dan kita dukung bersama-sama demi kemandirian energi negara kita Indonesia,” tutup Dody. (*)

Simak berita dan artikel BorneoFlash lainnya di  Google News

banner 700x135

No More Posts Available.

No more pages to load.