Kendati demikian, cara kerja Nikuba itu disorot ahli. Salah satunya Ahli Konversi Energi dari Fakultas Teknik dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB) Tri Yuswidjajanto Zaenuri.
Menurut pria yang akrab disapa Yus itu, teknologi pengubah air menjadi hidrogen seperti Nikuba bukanlah barang baru.
Bila teknologi seperti itu, kata Yus maka tidak sepenuhnya bisa menggantikan peran bahan bakar.
Bahan bakar masih dibutuhkan namun jumlahnya lebih sedikit. Kalaupun keseluruhan mengganti air jadi bahan bakar maka tetap membutuhkan aki dan bensin.
“Lama-lama aki bisa tekor karena secara keseimbangan energi tidak cukup. Lebih besar untuk memproduksi daripada yang berguna. Jadi tak hanya butuh aki, tapi juga tetap butuh bensin,” ucap Yus.
Ogah Dibantu BRIN
Nikuba temuan Aryanto Misel itu dinilai Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) perlu ada riset lanjutan.
BRIN juga mempersilakan Aryanto untuk menggunakan fasilitas yang dimiliki guna mengembangkan temuannya itu.
Namun hingga saat ini diketahui Aryanto sudah menutup pintu. Aryanto sudah kadung kecewa karena merasa ‘dibantai habis’ oleh BRIN saat dirinya tengah mempresentasikan Nikuba.
“Itu kan saya ribut itu sama orang BRIN, saya nerangin belum sampai selesai langsung dipatahin itu di tengah. ‘Tanpa BRIN nggak akan jalan itu Nikuba’, bahasa itu kan nggak etis.”
“Mau jalan mau nggak buktinya Kodam beli sama saya udah ratusan juta sampai sekarang barangnya,” kata Aryanto.





