Pemkot Samarinda

Catat Laba Rp53 Miliar, Kinerja Keuangan PDAM Samarinda Justru Menurun

lihat foto
Kepala Bagian Ekonomi Setda Kota Samarinda, Nadya Turisna. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa
Kepala Bagian Ekonomi Setda Kota Samarinda, Nadya Turisna. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa

BorneoFlash.com, SAMARINDA – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Samarinda masih membukukan keuntungan lebih dari Rp53 miliar. Meski demikian, capaian tersebut tercatat lebih rendah dibandingkan perolehan pada tahun sebelumnya.

Penurunan laba itu terjadi di tengah kondisi keuangan perusahaan yang kini dinilai lebih sehat setelah terbebas dari berbagai kewajiban utang yang sebelumnya masih membebani pembukuan.

Kepala Bagian Ekonomi Sekretariat Daerah Kota Samarinda, Nadya Turisna, mengatakan perubahan struktur biaya menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perbandingan kinerja keuangan dari tahun ke tahun. 

Menurutnya, sejumlah utang lama yang sebelumnya masih tercatat kini telah diselesaikan dan tidak lagi menjadi bagian dari beban perusahaan.

“Jika dibandingkan dengan periode sebelumnya memang terjadi penurunan. Namun hal tersebut dipengaruhi perubahan pada komponen biaya. Beberapa kewajiban lama yang sebelumnya masih tercatat kini telah dihapus sehingga struktur keuangan perusahaan juga mengalami perubahan,” ujarnya, pada Selasa (9/6/2026).

Secara umum, kondisi tersebut cukup menarik perhatian karena penghapusan utang biasanya memberikan ruang yang lebih besar bagi peningkatan keuntungan perusahaan. Akan tetapi, pada PDAM Samarinda, laba justru mengalami penurunan meskipun perusahaan telah terbebas dari beban kewajiban masa lalu.

Nadya menjelaskan, salah satu penyebab utama berkurangnya laba adalah tingginya belanja investasi yang dialokasikan untuk pembangunan sejumlah instalasi pada tahun 2025. 


Pengeluaran tersebut masih berada dalam tahap pengembangan sehingga manfaat ekonominya belum sepenuhnya dirasakan perusahaan.

“Pada tahun 2025 terdapat cukup banyak pembangunan instalasi yang membutuhkan alokasi anggaran. Sementara hasil dari investasi tersebut belum sepenuhnya kembali menjadi pendapatan, sehingga berdampak terhadap perolehan laba perusahaan,” jelasnya.

Meski laba mengalami penurunan, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda menegaskan bahwa penilaian terhadap kontribusi PDAM kepada Pendapatan Asli Daerah (PAD) tidak hanya didasarkan pada besaran keuntungan semata. Kondisi kesehatan keuangan perusahaan juga menjadi pertimbangan penting dalam proses evaluasi.

Menurut Nadya, Wali Kota Samarinda biasanya meminta penjelasan menyeluruh mengenai posisi keuangan perusahaan sebelum menentukan langkah terkait penyetoran dividen maupun kontribusi terhadap daerah.

“Pemerintah terlebih dahulu akan melihat tingkat kesehatan perusahaan. Meskipun mencatatkan laba, tetap perlu dipastikan apakah masih terdapat kewajiban yang harus diselesaikan atau kondisi lain yang perlu menjadi perhatian,” katanya.

Ia menambahkan, posisi keuangan PDAM Samarinda saat ini dinilai jauh lebih baik dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Perusahaan disebut tidak lagi memiliki utang operasional maupun kewajiban lama yang dapat mengganggu stabilitas keuangan.

“Untuk saat ini kondisi keuangan PDAM relatif bersih karena tidak lagi memiliki utang kerja maupun utang masa lalu. Dengan kondisi tersebut, berbagai kebijakan dapat dijalankan dengan lebih leluasa,” tutupnya. (*)

Tetap Terhubung Bersama BorneoFlash

Simak berita terbaru dan artikel menarik lainnya langsung dari platform favorit Anda.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tulis Komentar