DLH Manfaatkan Sampah Organik jadi Bahan Bakar Co-Firing PLTU, Kurangi Sampah di TPAS Manggar

oleh -
Penulis: Niken Sulastri
Editor: Ardiansyah
Kepala UPTD Sampah Manggar Kota Manggar, Muhammad Harianto. Foto: BorneoFlash/Niken Sulastri
Kepala UPTD Sampah Manggar Kota Manggar, Muhammad Harianto. Foto: BorneoFlash/Niken Sulastri

BorneoFlash.com, BALIKPAPAN – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan mengelola sampah organik menjadi bahan bakar jumputan padat, untuk co-firing Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Teluk Balikpapan milik PLN.

 

“Sampah kita olah jadi bahan bakar dicampur dengan batu bara, untuk membangkitkan listrik di PLTU. Ini sudah berjalan sampai sekarang,” jelas Kepala UPTD Sampah Manggar Balikpapan, Muhammad Hariyanto.

 

Bahan baku jumputan padat itu berasal dari  sampah hasil pemangkasan pohon di Kota Balikpapan yang ditebang oleh DLH. “Bahan baku yang masuk itu sekitar 1-3 ton per hari. Ini juga membantu mengurangi sampah yang masuk ke zona penimbunan sampah, di Tempat Pembuangan Akhir Sampah,” ucapnya.

 

DLH Balikpapan mempunyai tim khusus setiap harinya melakukan pemangkasan pohon maupun penataan ruang terbuka hijau dan sebagainya, sehingga truk yang digunakkan khusus untuk mengangkat sampah, yang mana sampah itu digunakan sebagai bahan jumputan padat. “Kita langsung mengelola sampah itu menjadi jumputan padat,” katanya.

 

Sampah yang digunakan untuk bahan jumputan padat ini memang sampah pilihan, salah satunya dari sampah hasil pemangkasan pohon, seperti pohon-pohon di pinggir jalan yang sudah rindang dan perlu dipangkas. Tentunya, ini dapat mengurangi sampah yang ada di TPA Sampah Manggar.

 

Kapasitas TPA Sampah Manggar diperkirakan mampu menampung sampah hingga tahun 2026, dengan upaya pemanfaatan sampah ini sangat membantu sekali. Meskipun memang upaya pengurangan sampah di TPA sudah diterapkan mulai dari sampah rumah tangga, yang mana warga bisa melakukan pemilahan sampah.

 

Hariyanto menjelaskan bahan baku sampah dikumpulkan dan dibawa menuju mesin pencacah, yang mana dapat mengubah kayu menjadi serbuk kayu. Pencacahan dilakukan  beberapa kali supaya bisa mendapatkan hasil serbuk kayu yang halus.

Baca Juga :  Rivan A. Purwantono dan Transformasi KB Bukopin 

 

Selanjutnya tahap pemadatan, serbuk kayu yang sudah halus, dimasukan ke mesin kompresi. Mesin ini akan menghasilkan panas untuk mengeluarkan zat lignin dalam kayu yang berfungsi sebagai perekat alami. 

 

Saat dilakukan kompresi serbuk langsung dipadatkan dan dipotong lalu dimasukan ke dalam tangki pendingin untuk menghilangkan residu, sekaligus untuk  mengeraskan serbuk. Sehingga bahan jumputan padat dapat digunakan sebagai bahan bakar co-firing pembangkit PLTU. Tidak hanya potongan pohon yang bisa digunakkan tetapi dedaunan juga bisa digunakan sebagai bahan bakar co-firing. (Adv)

Simak berita dan artikel BorneoFlash lainnya di  Google News

banner 700x135

No More Posts Available.

No more pages to load.