Diagnosa Kematian Petugas KPPS Batu Ampar Akibat Hipertensi dan Kegagalan Fungsi Jantung 

oleh -
Penulis: Niken Sulastri
Editor: Ardiansyah
Kepala DKK Balikpapan, dr Andi Sri Juliarty Bersama Wali Kota Balikpapan, Asisten I Bidang Tata Pemerintahan Setda Kota Balikpapan, Kepala Bakesbangpol Kota Balikpapan dan Ketua KPU Balikpapan, saat takziah Kerumah Duka di Kompleks Batu Ampar Lestari B10/23, Kelurahan Batu Ampar Kecamatan Balikpapan Utara, pada hari Selasa (27/2/2024). Foto: BorneoFlash/Niken Sulastri
Kepala DKK Balikpapan, dr Andi Sri Juliarty Bersama Wali Kota Balikpapan, Asisten I Bidang Tata Pemerintahan Setda Kota Balikpapan, Kepala Bakesbangpol Kota Balikpapan dan Ketua KPU Balikpapan, saat takziah Kerumah Duka di Kompleks Batu Ampar Lestari B10/23, Kelurahan Batu Ampar Kecamatan Balikpapan Utara, pada hari Selasa (27/2/2024). Foto: BorneoFlash/Niken Sulastri

BorneoFlash.com, BALIKPAPAN – Kematian petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Kelurahan Batu Ampar Kecamatan Balikpapan Utara dikarenakan sakit.

 

Almarhum yang bernama Ambiya yang berusia 41 tahun berjenis kelamin laki-laki dan belum menikah ini merupakan pasien dari Puskesmas Batu Ampar. Pada saat menjadi petugas penyelenggara pemilu, beliau ikut skrining kesehatan bersama petugas KPPS lainnya.

 

“Itu sudah memang hipertensi. Jadi sudah mempunyai hipertensi lama,” ucap Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan, dr Andi Sri Juliarty kepada media saat takziah di Kompleks Batu Ampar Lestari B10/23, Kelurahan Batu Ampar Kecamatan Balikpapan Utara, pada hari Selasa (27/2/2024).

 

Dio biasa disapa mengatakan diagnosa kematian almarhum dikarenakan hipertensi dan kegagalan fungsi jantung dan hasil Rontgen ada pembesaran jantung.

 

Dio memaparkan kronologi almarhum bahwa pada tanggal 16 Februari 2024 melakukan pemeriksaan laboratorium di Puskesmas Batu Ampar. “Setelah cek lab makin nggak enak, masuk rumah sakit pada tanggal 17 Februari 2024,” terangnya.

 

Hasil diagnosa pada saat masuk rumah sakit Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) dikarenakan krisis hipertensi. Hipertensi yang lama membuat jantung membesar berdasarkan hasil Rontgen dari rumah sakit. “Hasil Rontgen dari rumah sakit Kanudjoso menyatakan pembesaran jantung. Ini yang bikin sesak, yang membuat beliau masuk ke rumah sakit,” paparnya.

 

Setelah dilakukan perawatan di RSKD, pada tanggal 20 Februari 2024 almarhum membaik sehingga beliau pulang ke rumah. Kemudian, pada tanggal 22 Februari 2024, beliau masuk ke RSKD kembali dikarenakan tensi yang naik, ada gejala inpad dan jantungnya semakin melemah. 

 

“Almarhum masuk ICU dan meninggal di ruang ICU tadi malam pukul 00:12 WITA,” jelasnya.

Baca Juga :  Disnakertrans Sebut 4 Perusahaan Terlapor Belum Bayarkan THR Karyawannya
Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan, dr Andi Sri Juliarty. Foto: BorneoFlash.com/Niken Sulastri.
Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan, dr Andi Sri Juliarty. Foto: BorneoFlash.com/Niken Sulastri.

Dio menyampaikan petugas KPPS di Kota Balikpapan yang terdata sakit yakni 47 orang melakukan rawat jalan dalam arti melakukan  pemeriksaan di Tempat Pemungutan Suara (TPS), kemudian sebanyak 40 orang masuk rumah sakit. “Di rumah sakit itu kan ada yang sampai UGD pulang dan ada yang dirawat nginap, kemudian meninggal satu,” sebutnya.

 

Saat ini di seluruh rumah sakit di Kota Balikpapan sudah tidak ada lagi petugas penyelenggara pemilu yang dirawat. “Semua tidak ada lagi yang dirawat,” katanya.

 

Salah seorang warga bernama aji mengatakan bahwa beliau orang yang baik dan ramah. Memang beliau ini sering menjadi petugas penyelenggaraan pemilu di Kota Balikpapan. “Dia memang ada sakit demam, trus masuk rumah sakit, kemudian sempat pulang ke rumah dan kembali lagi dirawat di rumah sakit,” beber teman main almarhum.

Simak berita dan artikel BorneoFlash lainnya di  Google News

banner 700x135

No More Posts Available.

No more pages to load.