Indeks Standar Pencemaran Udara di Paser Masih Aman Meski Ratusan Hektar Lahan Terbakar

oleh -
Editor: Ardiansyah
Tim gabungan penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Kabupaten Paser, saat melakukan upaya pemadaman api di lahan yang terbakar.
Tim gabungan penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Kabupaten Paser, saat melakukan upaya pemadaman api di lahan yang terbakar.

BorneoFlash.com, TANA PASER – Kebakaran lahan di Kabupaten Paser yang terjadi sejak memasuki musim kemarau tahun ini luasnya mencapai 537,87 hektar hingga Rabu (4/10/2023).

 

Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Paser memperoleh data tersebut dari seluruh kecamatan. Wilayah Kecamatan Tanah Grogot teridentifikasi sebagai yang paling terdampak oleh kebakaran lahan.

 

Ruslan, sebagai Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Paser mengatakan bahwa kemungkinan besar puncak musim kemarau akan terjadi pada Oktober 2023. 

 

“Puncak el nino diperkirakan bulan ini, cuman dari Mendagri belum ada upaya penanganan untuk pembuatan cuaca buatan, jadi tergantung nanti provinsi untuk koordinasi ke BMKG,” kata Ruslan. 

 

Akan tetapi, meskipun ratusan hektar lahan yang terbakar di Tanah Grogot ini imbasnya tidak terlalu berpengaruh dengan kualitas udara di Kabupaten Paser. 

 

“Saati ini, indeks standar pencemaran udara (ISPU) di Paser masih berada di bawah 50, sehingga kondisinya masih aman. Jika sudah melebihi angka 50, tentu saja situasinya menjadi berbahaya,” katanya.

Tim gabungan penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Kabupaten Paser, saat melakukan upaya pemadaman api di lahan yang terbakar.
Tim gabungan penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Kabupaten Paser, saat melakukan upaya pemadaman api di lahan yang terbakar.

Hanya terjadi kabut asap, khususnya di Kecamatan Tanah Grogot yang merupakan imbas dari kebakaran hutan yang terjadi.

 

Ruslan mengatakan bahwa cuaca di Kabupaten Paser sebenarnya cerah, hanya saja karena banyaknya lahan yang terbakar sehingga kondisi cuaca seperti mendung. 

 

“Di pagi hari terlihat jelas, langit seolah-olah berkabut padahal sebenarnya cerah. Itu sebenarnya kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran. Jika hujan turun, biasanya asapnya ikut turun,” ucap Ruslan.

 

BPBD Paser pun hingga kini masih terus melakukan pemadaman saat terjadi Karhutla dan memberikan bantuan air bersih kepada masyarakat yang terkena dampak musim kemarau. 

Baca Juga :  Wabup Paser Apresiasi Manajemen PT Kideco Jaya Agung Berkontribusi Pada Dunia Pendidikan 

 

“Karena di berbagai tempat, banyak masyarakat yang mengalami kekurangan air bersih, terutama di wilayah pesisir. Saat ini, kondisinya darurat Karhutla dan kekurangan air bersih, sehingga kami terus berupaya melakukan penanganan,” kata Ruslan.

Simak berita dan artikel BorneoFlash lainnya di  Google News

banner 700x135

No More Posts Available.

No more pages to load.