Hukum Tentang Bagaimana Fidyah Puasa, Bentuk dan Caranya

oleh -
Editor: Ardiansyah
Dalam Islam, fidyah puasa merupakan pengganti dari puasa Ramadhan yang ditinggalkan, di mana penggantinya adalah memberi makan orang miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan.
Dalam Islam, fidyah puasa merupakan pengganti dari puasa Ramadhan yang ditinggalkan, di mana penggantinya adalah memberi makan orang miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan.

BorneoFlash.com, Dalam Islam, fidyah puasa merupakan pengganti dari puasa Ramadhan yang ditinggalkan, di mana penggantinya adalah memberi makan orang miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan.

Oleh: Ust M Shiddiq Al Jawi

Tanya:

Ustadz, mohon dijelaskan tentang fidyah puasa, khususnya mengenai bentuk dan caranya. (Abu F, Tangerang).

Jawab :

Fidyah puasa merupakan pengganti (badal) dari puasa yang ditinggalkan pada bulan Ramadhan, berupa memberi makan kepada orang miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. (Rawwas Qal’ah Jie, Mu’jam Lughah Al Fuqaha, hlm. 260).

 

Siapakah yang wajib mengeluarkan fidyah? 

Menurut Syeikh Mahmud Abdul Lathif ‘Uwaidhah dalam kitabnya Al Jami’ li Ahkam As Shiyam, mereka yang wajib membayar fidyah ada tiga golongan; 

 

Pertama, orang-orang yang tak mampu berpuasa, yaitu laki-laki atau perempuan yang sudah lanjut usia yang tak mampu lagi berpuasa, dan orang sakit yang tak mampu berpuasa yang tak dapat diharap kesembuhannya.

 

Dalilnya firman Allah SWT (yang artinya), ”Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (maka jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin.” (wa ‘alalladziina yuthiiquunahu fidyatun tha’aamu miskiin) (QS Al Baqarah [2] : 184). 

 

Ibnu Abbas ra menafsirkan ayat tersebut dengan berkata, ”Ayat tersebut tidaklah mansukh (dihapus hukumnya), tetapi yang dimaksud adalah laki-laki lanjut usia (al syaikh al kabiir) dan perempuan lanjut usia (al marah al kabirah) yang tak mampu lagi berpuasa, maka keduanya memberi makan kepada seorang miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan.” (HR Bukhari, Abu Dawud, Nasai, Daruquthni). 

 

Disamakan hukumnya dengan orang lanjut usia tersebut, orang sakit yang tak mampu berpuasa yang tak dapat diharap kesembuhannya. (Mahmud Abdul Lathif ‘Uwaidhah, Al Jami’ li Ahkam As Shiyam, hlm. 202 & 206).

Baca Juga :  Jelang Idul Fitri 1443 H, Apical Group Bantu Masyarakat Gelar Bazar Ramadan

 

Kedua, orang yang mati dalam keadaan mempunyai utang puasa yang wajib di-qadha. Dalam hal ini hukumnya boleh, tidak wajib, bagi wali (keluarga) orang yang mati tersebut untuk membayar fidyah. 

 

Pihak wali (keluarga) dari orang mati tersebut boleh memilih antara meng-qadha puasa atau memilih membayar fidyah dari puasa yang ditinggalkan oleh orang mati tersebut. 

 

Pendapat bolehnya membayar fidyah bagi orang yang mati, merupakan pendapat beberapa sahabat Nabi SAW, yaitu Umar bin Khaththab, Ibnu ‘Umar, dan Ibnu Abbas, radhiyallahu ‘anhum. (Mahmud Abdul Lathif ‘Uwaidhah, Al Jami’ li Ahkam As Shiyam, hlm. 207).

Simak berita dan artikel BorneoFlash lainnya di  Google News

banner 700x135

No More Posts Available.

No more pages to load.