Pendapat Ahli soal CDC Sebut OTG Tak Perlu Tes Covid-19

oleh -
Ilustrasi: Ahli tetap berpendapat orang yang pernah kontak dekat dengan pasien positif Covid-19 tetap penting dites, sekalipun tanpa gejala atau belum menunjukkan gejala.

BorneoFlash.com, JAKARTA – Ahli Epidemiolog dan Kesehatan Masyarakat dari Universitas Indonesia, Pandu Riono menilai, setiap orang yang pernah kontak dekat dengan pasien positif Virus corona idealnya menjalani tes.

Sekalipun, orang tersebut tanpa gejala Covid-19 (asimptomatik) ataupun belum menunjukkan gejala (presimtomatik).

Pendapat Pandu merespons pembaruan panduan tes Covid-19 dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat yang merekomendasikan orang tanpa gejala tak perlu tes, sekalipun sudah kontak dekat dengan mereka yang positif Covid-19.

“Saya nggak tahu, kalau CDC kan itu sangat dipengaruhi kebijakan Trump ya. Jadi kadang-kadang seringkali… Trump kan tidak suka testing. Jadi mengurangi keharusan testing,” kata Pandu menduga.

“Padahal kan ini risiko tinggi kalau sudah kontak [dengan orang yang positif Covid-19],” sambung dia lagi ketika dihubungi CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon.

Pandu mengakui, memang tak semua orang atau seluruh orang serta-merta harus melakukan tes Covid-19. Tetap terdapat kriteria, salah satunya menurut dia, ketika orang itu tergolong berisiko. Dan kontak dekat dengan orang yang positif virus corona, atau kontak selama setidaknya 15 menit, menjadikan seseorang masuk dalam kategori rentan dan sebaiknya menjalani tes.

“Karena [virus corona] ini kan penularannya rawan, mudah menular begitu. Apalagi kalau dibilang, oh dia kontak 15 menit, di mana? di dalam ruang. Ya sudah tes. Seperti di Korea Selatan itu, jadi banyak yang ketahuan,” tutur Pandu.

Kendati mengakui kemampuan tes Covid-19 di Indonesia masih terbatas, namun ia menyarankan, selagi dimungkinkan maka orang yang paling berisiko tetap wajib menjalani tes.

“Kalau memungkinkan tes,” kata dia.

“Kita merujuknya pada logika. Logika kita kan ingin memutus rantai penularan. Kalau di DKI, di mana testing-nya kapasitasnya bagus, ya testing saja. Atau kalau testing-nya terbatas, diisolasi langsung,” ucap Pandu lagi.

Baca Juga :  Masuki Zona Merah Penyebaran Covid-19, Beberapa Kantor Dinas di Kubar Batasi Pelayanan

Namun begitu, Pandu percaya sebentar lagi keterbatasan kapasitas pengujian atau tes Covid-19 ini bisa diatasi ketika sudah ada tes antigen. Ia menjelaskan, tes antigen memang tak lebih akurat dibanding tes PCR. Tapi tak seperti tes antibodi, tes antigen ini bisa mendeteksi virus.

“Nah sebentar lagi ini katanya sudah diproduksi tes antigen di Indonesia, kerja sama dengan Korea, di Bandung. Ini jauh lebih cepat dan lebih murah, walaupun less acurat–akurasinya nggak sama dengan dari PCR, tapi lebih cepat, dan mendeteksi virus, bukan antibodi,” terang dia.

Sebelumnya, CDC mengubah pedoman dengan tak lagi merekomendasikan setiap orang untuk menjalani tes Covid-19. Orang yang sudah kontak dekat dengan pasien positif virus corona namun tanpa gejala atau tak menunjukkan gejala maka tak direkomendasikan melakukan tes.

Kecuali, orang tersebut termasuk kelompok rentan, di tengah populasi yang berisiko atau, mendapat rekomendasi petugas pelayanan kesehatan.

“Jika Anda telah melakukan kontak dekat (berjarak 6 kaki) dengan orang yang terinfeksi Covid-19 setidaknya selama 15 menit, tapi kemudian Anda tak bergejala, maka Anda tak perlu melakukan tes kecuali Anda adalah individu yang rentan atau pelayanan kesehatan setempat merekomendasikan Anda untuk melakukan tes,” terang CDC yang dipublikasikan di Laman resmi pada 24 Agustus 2020.

Sumber : CNNIndonesia

Simak berita dan artikel BorneoFlash lainnya di  Google News

banner 700x135

No More Posts Available.

No more pages to load.